Cari File

Sabtu, 02 Juli 2011

Selamat Hari Bhayangkara Ke 65

Polisi...

Apabila saya dapat bertanya kepada seluruh masyarakat Indonesia..
"Apa yang dipikirkan pertama kali saat mendengar kata POLISI?"

Saya yakin saat ini jawaban yang terbanyak adalah "Pungli, kasar, dan tidak bersahabat..."

Mengapa bisa demikian?
Mengapa petugas yang profesi utamanya adalah sebagai seorang pelindung?
Sebagai pelayan?
Bahkan sebagai orang yang mengayomi masyarakat mendapatkan predikat seperti itu???

Ironis bukan???

Kali ini penulis mencoba mengajak rekan-rekan semua untuk memahami terjadinya fenomena ini.
Namun sebelum masuk ke materi, mohon hilangkan dulu prasangka buruk rekan-rekan terhadap saya, apabila masih ada pikiran saya hanya mau membersihkan nama Polri belaka. (Karena guru saya dulu bilang, kalau sudah emosi terhadap salah satu guru, maka pelajaran semudah apapun tidak akan bisa diserap.. :-) )

Ok, kita mulai..

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang baru berkembang setelah dijajahan ratusan tahun oleh bangsa Belanda. Bangsa kita umurnya sudah 66 tahun, bisa dikatakan lumayan tua untuk ukuran manusia, namun masih remaja apabila menggunakan standar umur negara-negara di dunia. Kenapa masih remaja? Koq belum "dewasa"?
Hal ini disebabkan hasil produk orde lama telah membentuk masyarakat yang tidak mau memikirkan nasib negaranya, semuanya sudah disetir/diatur oleh pemimpin negara kita dulu. Kalau diibaratkan, masyarakat kita dulu sama seperti "anak-anak", disuruh ke sana-mau.... disuruh ke sini-mau... Nolak dikit, diomelin! Hehehehe...

Nah.. Sejak era reformasi, semua sekat-sekat perlahan dibuka! Ibaratnya orde lama adalah "Anak SD", orde baru reformasi ini adalah "Anak SMA".
(Maaf pakai karikatur saya SMA dulu, soalnya kalau pakai google cari gambar "anak sma", bingung deh jadinya..)
Mengapa penulis mengatakan demikian?
Coba ingat sifat anak SMA seperti apa?
- Tidak berpikir panjang
- Diajak kerja kelompok.. =Tidur2an/becanda
- Diajak kerja bakti.. Membersihkan lingkungan sekolah.. =Ngilang
- Diajak latihan baris-berbaris... =Maless banget...
- Disuruh seragam pakai sepatu hitam... =Protes! (Bila perlu pindah sekolah)
- Diajak main? =YES!!!
- Diajak minum? =OK!!!
- Diajak dugem? =MANTAP!!!


Nah... Apa bedanya dengan negara kita saat ini?
- Tidak berpikir panjang = Baru terima BBM atau SMS teror, langsung disebarkan
- Diajak kerja kelompok = Diajak ikut Pemilu (jangankan mempelajari siapa yang diplih, milih aja males...)
- Diajak kerja bakti = Masalah sampah? Jangankan memisahkan sampah organik & non organik.. Buang bungkus permen atau puntung rokok saja orang tua sudah tidak pernah memberi contoh anak-anaknya.
- Diajak latihan bari-berbaris = Sekolah sekarang sudah banyak yang tidak upacara di hari Senin loh...
- Disuruh pakai seragam = Masyarakat diminta untuk memiliki SIM terlebih dahulu sebelum membawa kendaraan, mayoritas menyepelekan, kalau ditilang... Protes!
- Diajak unjuk rasa iming2 duit atau kaos? =YES!!!
- Diajak mendukung sesuatu yang salah di Facebook? =OK!!
- Diajak menyebarkan kejelekan-kejelekan pemerintah/instansi lewat belakang/internet? =MANTAP!!!


Nah loh?!!! Sama saja bukan?

Sekarang saya ajak untuk rekan-rekan menengok Polisi.. Di Inggris ada teori tentang kepolisan secara global mengatakan bahwa, "Polisi adalah bayang-bayang masyarakatnya." Kalau masyarakatnya "jongkok", yah polisinya juga ikut jongkok; kalau masyarakatnya "berdiri" yah polisinya juga ikut berdiri... Wajar dong? Bayangan gitu loh.... (gaul mode ON... Hehehehehe...)


(Fenomena objek tidak kompak dengan bayangan hanya terjadi di komik Lucky Luke..)

Masyarakatnya masih SMA, polisinya juga sekelas SMA.
Di SMA dulu, anak teladan itu sangat minim... yang banyak adalah anak badung, dan anak netral.
Di Polisi juga begitu saat ini.. Banyak Polisi yang TELADAN... namun... masih jauh lebih banyaaaaaaaakkk... yang BELUM TELADAN. Betul kan?

Trus? Bagaimana caranya supaya Polisi menjadi teladan bagi masyarakatnya?

Langkah untuk membangun Polri menjadi dicintai dan disayangi oleh masyarakatnya adalah:
1. Dari internal, mengeraskan komitmen kebersihan dalam sistem rekruitmen Polri, serta doktrin dari pimpinan mengarahkan anak buahnya menjadi polisi yang diinginkan oleh masyarakat.
2. Dari eksternal, masyarakat harus mengenal hukum. Belajar mengenai, "apa yang boleh dilakukan, dan apa yang tidak boleh dilakukan". Misalnya, kalau semua pelanggar di bumi Ibu Pertiwi ini minta ditilang, bukan minta damai, saya yakin tidak akan ada polisi nakal yang berani cari-cari kesempatan lagi.


BIASAKANLAH YANG BENAR...
JANGAN MEMBENARKAN KEBIASAAN...

Apa sih kebiasaan yang benar itu pak?

- Bawa motor harus punya dan bawa SIM
- Mengendarai motor harus menggunakan Helm
- Mengendarai mobil harus menggunakan sabuk keselamatan
- Unjuk rasa tidak boleh hari libur
- Unjuk rasa tidak boleh di objek vital/pelayana publik
- Unjuk rasa tidak boleh bawa anak-anak
- Unjuk rasa tidak boleh anarkis apalagi membakar-bakar ban
- dsb.


Kalau saya sudah patuhi peraturan, tapi lingkungan mentertawakan saya bagaimana?

Kuatkanlah mental rekan-rekan.. Kita mau jadi orang yang ikut2an, atau menjadi sosok teladan? Sosok teladan di lingkungan yang negatif memang awalnya memang sering dicemooh. Tapi jangan takut! Rekan-rekan tidak sendiri... Banyak dari pembaca blog ini setelah membaca-baca blog, ikut tergugah untuk belajar mengikuti aturan dan memberi teladan di lingkungannya.

Kalau saya sudah patuhi peraturan, tapi ketemu oknum polisi yang nakal bagaimana?

Pastikan nakalnya bukan dipicu oleh rekan-rekan sendiri.. Kalau sudah yakin, tapi tetep ketemu oknum polisi nakal, pelajarilah cara/prosedur melaporkannya ke Provost POLRI.

Di koran saya lihat banyak yang negatif tentang Polisi?

Pandai-pandailah rekan-rekanku semua dalam memilah berita.

Contoh 1:
Fakta: Angka pengungkapan kasus narkoba bulan x lebih tinggi dari bulan y
Tanggapan positif: Polisinya berarti meningkatkan pasukannya di lapangan sehingga banyak tangkapan.
Tanggapan negatif: Kinerja Polri menurun, kasus narkoba meningkat.

Contoh 2:
Fakta: TSK pencuri semangka disidangkan
Tanggapan positif: Polisi belajar tegas, tidak peduli umur yang sudah tua atau alasan apapun, yang namanya "mencuri" tetap saja "mencuri".
Tanggapan negatif: Polisi memeriksa seorang nenek yang hanya mencuri buah semangka.

Contoh 3:
Fakta: Foto unjuk rasa yang memperlihatkan polisi menendang/melempar sesuatu ke arah massa unjuk rasa.
Tanggapan positif: Pasti kelewatan pengujuk rasa itu, sampai bisa memancing emosi petugas seperti itu.
Tanggapan negatif: Kekerasan polisi terhadap pengunjuk rasa tidak pernah berakhir.

Contoh 4:
Fakta: Polri memecat sejumlah oknum dengan tidak yang terbukti menyalahgunakan narkotika
Tanggapan positif: Polisi hebat! Berani memecat anggota nya dan dipblikasikan.. Instansi lain belum ada yang berani seperti ini.
Tanggapan negatif: Mental Polri merosot?! Akan dikemanakan mental Polisi Indonesia?

Nah.. Dari keempat contoh di atas, tanggapan manakah yang pasti laku untuk dijadikan headline di koran? Pasti yang NEGATIF.. Kenapa? Karena.............. Sudah resiko jadi polisi, kalau bagus - sedikit yang komentar, kalau jelek - dicaci maki habis2an. Hehehehe..

Mari bersama kita belajar netral menghadapi suatu permasalahan, agar kepala selalu dingin. (Prosesor Intel Pentium atau AMD akan melambat kinerjanya apabila suhu di lingkungannya meningkat, sama halnya dengan kepala manusia, kalau suhu emosi berhasil ditingkatkan oleh media massa, maka pikiran jernih masyarakat akan tenggelam)

Apakah bisa Polisi di Indonesia baik semua?

Apabila rekan-rekan meyakini hal itu...
Maka hal itu pasti terwujud..


Jadi...
Setelah kita bersama mengetahui bahwa Polri saat ini sedang berjuang, bersama dengan masyarakatnya menjadi sosok "dewasa" (Negara Maju).. Kami mohon dukung Polisi Indonesia, menjadi lebih baik..

Sebagai PELAYAN anda semua...

Sebagai PELINDUNG anda sekeluarga...

Sebagai PENGAYOM masyarakat Indonesia...





Pekerjaan/profesi kami mungkin selintas mungkin dipandang sepele oleh rekan-rekan...

Namun ketahuilah.. Keluarga kami di rumah setiap saat selalu was-was akan hal berikut:

Kantor dilempari batu oleh pelanggar lantas yang bertindak seperti anak kecil ngambek
Kendaraan yang biasa dipakai untuk patroli / mengangkut korban / TSK dihancurkan massa

Dikeroyok massa
Dilempari batu oleh pengunjuk rasa

Dilempari batu batre
Terkena pecahan bom

Cacat seumur hidup karena bom

Bahkan tewas ditembak oleh teroris
Pada Hari Bhayangkara yang ke 65 ini, kami mohon doa rekan-rekan semua, agar dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, kami terhindari dari hal-hal yang tergambarkan di atas.

Salam hangat dari Penulis...


NB: Maaf kalau kali ini bukan topik materi kepolisian, malah penulis berpidato panjang lebar. :-)



BAGIAN KHUSUS BAGI ANGGOTA POLRI DI SELURUH INDONESIA


Penulis beserta rekan-rekan Unit Lantas Polsek Wonokromo mengucapkan, Selamat Hari Bhayangkara ke 65 kepada senior, junior, serta rekan-rekanku di seluruh Republik Indonesia...
Semoga kita semua beserta keluarga selalu dilindungi
oleh Tuhan Yang Maha Esa...
Semoga siapapun yang berniat jahat kepada kita,
diberikan pencerahan oleh Tuhan untuk mengurungkan niatnya.

Harga Toshiba Power TV


Melanjutkan kesuksesan Power TV, di pertengahan tahun ini Toshiba memperkenalkan inovasi terbarunya, Power TV generasi 2. Dengan fitur yang lebih canggih dibandingkan pendahulunya, namun tetap berdaya listrik rendah, hemat energi dengan harga yang terjangkau. Toshiba menghadirkan Power TV generasi 2 untuk mengakomodir para penikmat TV yang ingin mengganti TV tabung mereka menjadi LCD. "Sambutan baik konsumen Indonesia terhadap Power TV membuat kami tergerak untuk menghadirkan versi terbaru dengan kualitas lebih prima namun dengan harga yang tetap terjangkau. Sesuai dengan pesan utama dalam kampanye kami, 'Toshiba, A Part of You', hadirnya Power TV generasi 2 ini merupakan bukti komitmen kami untuk selalu menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia," ungkap Fransisca Maya, Senior Marketing Manager, PT Toshiba Visual Media Network Indonesia. Power TV generasi 2 hadir dengan 3 tipe andalan, yaitu Power Booster 1 (PB10), Power Saver 1 (PS10) dan Power Charger (PC1).

Power TV 2

Seri Power Booster 1 (PB10) adalah TV LCD dengan pencahayaan Cool Cathode Flourescent (CCFL), yang memungkinkan konsumen menikmati kualitas gambar yang sempurna, fitur Auto Signal Booster dan Auto Noise Reduction untuk meningkatkan kemampuan dalam menangkap frekuensi sinyal TV (RF) yang lemah, fitur ini sangat cocok terutama pada daerah yang mengalami gangguan sinyal. Seri PB10 dilengkapi dengan speaker audio 20W yang 3 kali lebih kuat memancarkan suara alami dibandingkan dengan yang umum ada di pasaran, juga didukung dengan fitur utama Power Meta Brain yang meningkatkan kualitas kejernihan pada gambar. Seri PB10 tersedia dalam ukuran 32" dan 40".

Power TV 2

Seri unggulan yang kedua adalah Power Saver 1 (PS10) yang menggunakan LED sebagai sumber pencahayaannya. Seri PS10 memiliki fitur utama Autoview untuk mengoptimalkan kontras gambar dan berfungsi membantu penghematan listrik karena mampu menyesuaikan kondisi cahaya pada ruangan. Tersedia dalam ukuran 24", 32" dan 40", seri PS10 ini, dapat menekan penggunaan energi listrik secara signifikan dan mengurangi efek penggunaan listrik bagi lingkungan.

Seri yang ketiga dan cukup unik dari Power TV adalah Power Charger (PC1), TV ini memiliki baterai yang mampu bertahan selama kurang lebih dua jam1 jika terjadi mati listrik. Keunggulannya antara lain; kualitas gambar jernih, warna sangat halus, dan suara berkualitas. Seri PC1 merupakan TV LED pertama di dunia2 yang memiliki cadangan baterai yang dapat diisi ulang dan terintegrasi dengan TVnya. Teknologi ini sesuai bila digunakan di daerah yang sering terjadi pemadaman listrik. Seri PC1 tersedia dalam ukuran 24".

Power TV 2

Bayu M. K. Sinulingga, Product Manager PT. Toshiba Visual Media Network Indonesia menjelaskan, "Power TV generasi 2 dirancang untuk memanjakan para penikmat film. Versi terbaru Power TV hadir dengan variasi format pemutar film yang lebih banyak, kemampuan transfer audio digital, serta kualitas High Definition Multimedia Interface (HDMI) yang lebih baik." Toshiba menciptakan Power TV generasi 2 dalam mendukung usaha dunia untuk mengurangi konsumsi listrik pada alat-alat elektronik, khususnya TV. Selain itu, Power TV generasi 2 ini juga menjadi persembahan spesial Toshiba untuk masyarakat Indonesia yang masih dihadapkan oleh ketidakstabilan suplai listrik dan penerimaan sinyal TV yang lemah terutama di daerah-daerah pedalaman.

Power TV 2

Desain TV elegan menyempurnakan penampilan Power TV generasi 2. TV dengan fitur canggih, hemat energi dan harga terjangkau ini tampil anggun dengan warna hitam mengkilap, menjadikan Power TV generasi 2 sebagai ornamen penambah kecantikan dalam rumah. Sisca menambahkan, "Kami yakin bahwa seri Power TV generasi 2 ini mampu melanjutkan kesuksesan seri Power TV sebelumnya di pasar Indonesia. Dengan menyempurnakan fitur dari pendahulunya, Power TV generasi 2 hadir sebagai solusi bagi mereka yang ingin beralih dari TV tabung ke LCD". Promosi penjualan Power TV 2 ini dilakukan bersamaan dengan peluncuran film Catatan Harian Si Boy. Toshiba sebagai salah satu perusahaan pendukung dalam film ini berharap partisipasinya dapat turut serta memajukan perkembangan film Indonesia.

Mengenai harganya, Bayu M. K. Sinulingga, mengatakan, PB1 dijual dengan kisaran harga Rp2 juta, PS1 Rp 2.5 juta, dan PC1 Rp3 juta.

Senin, 18 April 2011

Dam Pengendali (Check Dam)


1. Pembuatan Rancangan Dam Pengendali (DPi)

a. Persiapan

  1. Pemilihan calon lokasi
    Pemilihan calon lokasi dilakukan dengan cara inventarisasi terhadap beberapa calon lokasi dam pengendali yang telah ditetapkan dalam Rencana Teknik Tahunan (RTT) yang telah disusun, dengan kriteria sebagai berikut :
    a) Lahan kritis dan potensial kritis
    b) Sedimentasi dan erosi sangat tinggi
    c) Struktur tanah stabil (badan bendung)
    d) Luas DTA 100 -250 ha
    e) Tinggi badan bendung 8 meter
    f) Kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15-35 %
    g) Prioritas Pengamanan bangunan vital
  2. Orientasi lapangan
    Calon lokasi yang terpilih (memenuhi kriteria) kemudian dilakukan orientasi lapangan untuk menentukan letak dan ukuran badan bendung, saluran pelimpah dan daerah tangkapan air (DTA) serta daerah genangan air.
  3. Konsultasi
    Berdasarkan hasil orientasi lapangan dilakukan konsultasi dengan instansi terkait baik secara formal (Dinas Kimpraswil/PU, Dinas Pertanian dsb.) maupun non formal (kelompok tani, lembaga adat dsb)
    untuk memperoleh masukan sebelum lokasi dan tipe dam pengendali ditetapkan.
  4. Pengadaan bahan dan alat
    Pengadaan bahan dan alat diprioritaskan terhadap bahan habis pakai, sedangkan peta dasar dan peralatan lain seperti alat ukur/survey lapangan dapat memanfaatkan yang sudah ada.
  5. Administrasi
    Persiapan administrasi meliputi :
    a) Administrasi kegiatan
    b) Surat menyurat (pemberitahuan, surat ijin, kesepakatan masyarakat dsb.)

b. Pengumpulan data dan informasi lapangan.

  1. Data primer
    Data primer diperoleh dengan cara survey dan pengukuran lapangan, meliputi sebagai berikut :
    a) Topografi lokasi bangunan
    b) Penutupan lahan dan pola tanam
    c) Tanah (jenis, tekstur, permeabilitas)
    d) Luas DTA
    e) Jumlah, kepadatan dan pendapatan penduduk dan tingkat harga/upah disekitar lokasi
  2. Data sekunder, meliputi :
    Data sekunder dapat diperoleh dengan cara pengumpulan data yang telah ada/tersedia baik di instansi pemerintah, swasta dsb.
    a) Administrasi wilayah
    b) Curah hujan (jumlah, intensitas dan hari hujan)
    c) Erosi dan sedimentasi
    d) Adat istiadat masyarakat disekitar lokasi

c. Pengolahan dan analisa data/informasi.

Dari hasil pengumpulan data dan informasi di lapangan dilakukan pengolahan dan analisa, sebagai berikut :

  1. Dari data tanah, erosi/sedimentasi, topografi, curah hujan dan luas DTA diolah dan dianalisa menjadi:
    a) Letak bangunan
    b) Spesifikasi teknis bangunan utama dan pelengkap
    c) Debit aliran air/debit banjir rencana
    d) Daya tampung air
    e) Umur teknis bangunan
  2. Dari data jumlah penduduk, mata pencaharian, pendapatan serta adat istiadat diolah dan dianalisa menjadi informasi:
    a) Potensi ketersediaan tenaga kerja
    b) Standar satuan biaya/upah yang berlaku.

d. Penyusunan rancangan teknis

Sesuai norma yang berlaku rancangan dam pengendali (DPi) berisi :

  1. Tata letak bangunan
    a) Administrasi
    b) Geografis
  2. Kata Pengantar
  3. Lembar pengesahan
  4. Rísalah/data umum lokasi
  5. Spesifikasi teknis
    a) Fisik
    b) Hidrologi
    c) Sosek dan budaya
  6. Rencana anggaran biaya (RAB).
    Rencana anggaran biaya disusun secara rinci didasarkan pada volume pekerjaan dan satuan biaya (bahan, upah) yang berlaku.
  7. Tata waktu pelaksanaan.
    Rancangan harus memuat tata waktu pelaksanaan baik kegiatan fisik maupun pemeliharaan.
    Penyusunan rancangan sebaiknya dibuat pada T-1. Namun demikian pada kondisi tertentu penyusunan rancangan dapat dibuat pada T-0 sebelum pelaksanaan pekerjaan.
  8. Sosialisasi
    Sebelum dilakukan pembuatan dam pengendali, agar dilakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada kelompok tani yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Disamping itu pada saat pengukuran
    dan penyusunan rancangan dam pengendali, kelompok tani tersebut dilibatkan sehingga ada rasa memiliki dan ini akan meningkatkan kontinuitas atau kelestarian kegiatan tersebut khususnya pasca proyek.
  9. Gambar dan peta
    Rancangan dam pengendali perlu dilampiri gambar dan peta yang meliputi
    a) Gambar detail konstruksi dan spesifikasi teknis bangunan utama (badan bendung), saluran pelengkap (saluran pelimpah, saluran pembagi) skala 1 : 50 s/d 1 : 100.
    b) Peta situasi/administrasi, skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000.
    c) Peta kontur site (lokasi) bangunan utama, pelengkap dan daerah tangkapan air serta daerah genangan air, skala 1 : 1000 s/d 1 : 10.000.
  10. Mekanisme Prosedur
    Rancangan Dam Pengendali (DPi) disusun oleh Kepala Sub Dinas yang menangani perencanaan pada Dinas Kabupaten/Kota, dan dikonsultasikan dengan Dinas Kimpraswil/PU. Sebagai penilai adalah
    BPDAS dan disahkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota.

e. Hasil Kegiatan

Sebagai hasil kegiatan penyusunan rancangan berupa buku rancangan dam pengendali (DPi) yang dilengkapi dengan lampiran data, gambar dan peta dan telah disahkan oleh instansi terkait yang berwenang.
Gambar skematis tentang bangunan pengendali tipe busur dan tipe kedap air dapat dilihat pada Gambar 14 dan 15 di bawah ini.

Gambar 14. Dam Pengendali (Tipe busur)

Gambar 1. Dam Pengendali (Tipe busur)

Gambar 2. Dam Pengendali (tipe kedap air)

Gambar 2. Dam Pengendali (tipe kedap air)

2. Pembuatan Dam Pengendali (DPi)

a. Persiapan

  1. Penyiapan Kelembagaan
    a) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi rencana pelaksanaan pembuatan dam pengendali.
    b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
  2. Pengadaan sarana dan prasarana
    Pengadaan peralatan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan habis pakai. Sedang pembuatan sarana dan prasarana dibuat dengan tujuan untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di
    lapangan yang antara lain :
    a) Pembuatan jalan masuk
    b) Pembuatan gubuk kerja/gubuk material
  3. Penataan areal kerja
    a) Pembersihan lapangan
    b) Pengukuran kembali
    c) Pemasangan patok batas
    d) Pembuatan badan bendung dan saluran pelimpah/spill way di tanah milik masyarakat, tidak ada ganti rugi.

b. Pembuatan

  1. Pembuatan profil bendungan
  2. Pengupasan, penggalian dan pondasi bangunan
  3. Pembuatan saluran pengelak
  4. Pembuatan/pemadatan tubuh bendung
  5. Pembuatan saluran pengambilan/lokal dan pintu air
  6. Pembuatan bangunan pelimpah (spill way)
  7. Pembuatan bangunan lain untuk sarana pengelolaan: jalan inspeksi
  8. Pemasangan gebalan rumput

c. Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan Dam Pengendali (DPi) meliputi :

  1. Pemeliharaan badan bendung dan saluran pelimpah serta saluran pembagi
  2. Perbaikan gebalan rumput

d. Pelaksanaan Pembuatan Dam Pengendali

Berdasar sistem pembayarannya, pembuatan bangunan Dam Pengendali dapat dilaksanakan melalui dua alternatif, yaitu:

  1. Sistem Swakelola, melalui SPKS dengan kelompok tani, dalam rangka pemberdayaan sumberdaya dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal secara langsung serta menumbuhkan rasa memilikinya dan kepedulian memelihara apabila konstruksi telah selesai.
  2. Sistem pemborongan oleh Pihak III, melalui lelang dengan mengutamakan potensi lokal yang ada.

e. Organisasi pelaksana

Sebagai pelaksana dalam rancangan pembuatan Dam Pengendali adalah kelompok masyarakat dan/atau pihak ketiga didampingi Petugas Lapangan Gerhan dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota yang diserahi
tugas dan tanggung jawab di bidang Kehutanan.

f. Jadwal Kegiatan

Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang tertuang dalam rancangan.

g. Hasil Kegiatan

Hasil kegiatan adalah berupa bangunan Dam Pengendali (DPi) yang dibuat sesuai dengan rancangan. Hasil kegiatan diserahkan kepada Dinas Kehutanan Kab/Kota yang selanjutnya diserahkan kepada Kepala Desa
oleh Bupati untuk pemanfaatan dan pemeliharaannya.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 22/Menhut-V/2007 TENTANG …
File Format: PDF/Adobe Acrobat – View as HTML
Kehutanan tentang Pedoman Teknis dan Petunjuk. Pelaksanaan Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi. Hutan dan Lahan Tahun 2007. Mengingat ..

Sumber: PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 22/Menhut-V/2007 tentang PEDOMAN TEKNIS. GERAKAN NASIONAL REHABILITASI. HUTAN DAN LAHAN. (GN-RHL/Gerhan). DEPARTEMEN KEHUTANAN. 2007 …www.dephut.go.id/files/L1_P22_07.pdf

Tanggul Penghambat


Tanggul penghambat atau cek dam adalah bendungan kecil dengan konstruksi sederhana (urugan tanah atau batu), dibuat pada alur jurang atau sungai kecil. Tanggul penghambat berfungsi untuk mengendalikan sedimen dan aliran permukaan yang berasal dari daerah tangkapan di sebelah atasnya.

Tanggul penghambat dibuat dengan luas daerah tangkapan air dari 100 – 250 ha, dan dapat lebih luas untuk wilayah-wilayah tertentu yang mempunyai curah hujan yang rendah. Tinggi dan panjang bendungan maksimal adalah 10 meter tergantung pada kondisi geologi dan topografi lokasi yang bersangkutan. Pembuatan tanggul penghambat biasanya dilakukan pada musim kemarau.

Keuntungan

  • Menghindari pendangkalan waduk / sungai yang ada di hilirnya.
  • Mengendalikan aliran permukaan di daerah hilir
  • Menyediakan air untuk kebutuhan air minum, air rumah tangga, pengairan daerah di sebelah bawahnya (terutama pada musim kemarau), ternak dan sebagainya.
  • Meningkatkan permukaan air tanah daerah sekitar tanggul penghambat
  • Pengembangan perikanan di daerah genangan tanggul penghambat
  • Pebaikan iklim mikro setempat
  • Untuk rekreasi

Kelemahan

  • Perlu pemeliharaan termasuk pengerukan sedimentasi
  • Perlu tambahan tenaga kerja
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi

Faktor biofisik

  • Ketersediaan bahan-bahan untuk membangun tanggul penghambat

Faktor sosial ekonomi

  • Pembuatannya perlu gotong royong atau dibiayai pemerintah
  • Perlu insentif bagi pengelolaan tanggul penghambat